Cerita – cerita Saat Menyeberang

Crossing the StreetSering merasa frustasi saat menyeberang jalan? Saya sering, apalagi kalau sedang berada di sekitar jalan Ciledug Raya atau Cipadu. Janganlah berharap pengendara motor menghormati pejalan kaki, rasanya malah semua motor ingin menyambar pejalan kaki yang “mengganggu” jalan mereka. Tapi chaos yang saya hadapi tidak ada apa-apanya dibandingkan saat harus menyeberang di Ho Chi Minh City.

Motor yang lalu lalang jumlahnya berkali lipat lebih banyak. Teman yang memang orang Vietnam berpesan : menyeberanglah dengan PD, berjalan lurus tidak usah tengok kanan kiri. Niscaya para pengendara motor itu akan menghindari penyeberang jalan tanpa menabrak. Kenyataannya? Mana bisa saya menyeberang tanpa tengok kanan kiri? Tapi setelah beberapa kali dan mulai terbiasa, akhirnya bisa juga saya menyeberang dengan lurus. Ternyata memang baik-baik saja! Kecelakaan yang sering saya lihat justru terjadi antar sesama pengguna sepeda motor. Mereka masih menghormati pejalan kaki dengan caranya sendiri.

Paling bingung adalah saat harus menyeberang jalan di negara-negara Timur Tengah atau Eropa, yang posisi setir mobilnya terbalik dengan di Indonesia. Saya terbiasa menengok kanan dulu sebelum menyeberang, dan baru menengok kiri setelah di tengah jalan. Alhasil, tak terhitung berapa kali saya nyaris tertabrak mobil saat menyeberang di Madinah atau Dubai. Seringkali saya menyeberang sambil tengok kanan kiri dalam satu detik sampai pusing sendiri.

Paling enak memang menyeberang di negara maju, yang peraturan lalu-lintasnya jelas. Tinggal cari zebra cross, tunggu lampu lalu lintas menyala hijau, saya pun bisa menyeberang dengan tenang. Ada juga sih tidak enaknya. Di persimpangan yang sibuk, biasanya kita harus menyeberang melalui underpass. Jalan kakinya jadi tambah jauh! Kalau sedang tidak terburu-buru sih enak, karena seperti di Singapura, Hong Kong, atau İstanbul, banyak toko-toko berderet di underpass tersebut bahkan ada mall. Dengan peraturan yang sudah sedemikian jelas, saya masih sering melihat orang menyeberang sembarangan di Singapura atau Kuala Lumpur. Itu biasanya orang Indonesia, hehehehe… Ada banyak cerita tentang denda yang harus mereka bayar akibat pelanggaran tersebut.

Sama seperti di Indonesia, pengemudi dimanapun cenderung mengebut saat menyetir di luar kota. Bedanya dengan yang saya rasakan saat sedang di Great Ocean Road, Victoria, begitu saya menginjak garis zebra cross, pengemudi langsung berhenti walaupun tanpa lampu lalu lintas. Mereka memang sudah mengurangi kecepatan saat ada rambu zebra cross. Tapi jangan coba-coba menyeberang bukan di zebra cross deh, mereka tidak bakal berhenti!

Deg-degan saat menyeberang saya rasakan saat mau menyeberang di jalan yang agak sempit di sekitar Gülhane – İstanbul. Saking sempitnya, jalan tersebut hanya bisa dilalui oleh tram, dengan jarak antara pinggir tram dengan tembok rumah/toko hanya sekitar 1m. Akhirnya kalau sedang berjalan atau menyeberang saat tram lewat, saya harus merapat ke tembok supaya tidak tersambar.

Deg-degan juga sering saya rasakan di Australia. Baru setengah jalan menyeberang, lampu lalu lintas sudah berkedip-kedip merah. Seringkali saya menyeberang sambil setengah berlari. Langkah saya masih kurang lebar dibandingkan bule-bule itu! Tapi para bule yang saya lihat di beberapa negara di Eropa juga sering curi-curi menyeberang sembarangan, sih, terutama di jalan yang memang sepi.

Orang paling tertib dan disiplin yang pernah saya temui itu di Jepang. Sesepi apapun jalanan, kalau bukan giliran mereka menyeberang, mereka akan menunggu hingga lampu menyala hijau. Pertama kali sampai Ginza, saya takjub dengan puluhan orang yang sabar menunggu dan langsung seperti berhamburan saat lampu hijau menyala tanpa saling bertabrakan. Tapi ternyata keramaian itu masih belum ada apa-apanya dibandingkan saat saya baru keluar stasiun Shibuya menuju pertokoan di seberangnya. Ada ratusan penyeberang jalan yang menyeberang dengan kusut tapi rapi! Saking takjubnya saya sengaja berdiam di pinggir jalan dekat stasiun hampir setengah jam sambil menikmati keramaian orang-orang menyeberang itu, termasuk melihat dandanan mereka ;)

Yang paling memalukan adalah saat saya di Paris. Saat lampu menyeberang masih menyala merah, tentu saja saya menunggu giliran. Beberapa detik kemudian saya bingung kenapa para pengendara mobil berhenti dengan muka tidak sabar, padahal saat itu giliran mereka jalan. Dalam hati : aneh banget sih nih orang-orang.

Baru beberapa detik kemudian Mas Ridho memperhatikan posisi saya. Ternyata saya menginjak pinggiran garis pertama zebra cross. Sedikit sih, tapi saya menginjaknya! Saya langsung ditarik menjauhi zebra cross, dan langsung tersadar. Aduh malunyaaaa….. Gara-gara saya, para pengendara itu jadi kehilangan haknya untuk jalan. Mana saya tau kalau menginjak zebra cross itu artinya saya minta jalan untuk menyeberang walaupun lampu lalu lintas menandakan sebaliknya!

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s