Critical Eleven, a Therapeutic Novel

image

Critical Eleven is very personal for me. It was very well written by @ikanatassa, which gave me therapeutic effect. I can relate to Anya, so I cried a lot at every single chapter.

I know how it feels when you live in different continent and different timezone with your husband. Meet for few weeks only, every few months, for years.

I know how it feels when you lost your baby, the one who can’t be hugged since his birth day.

I know how it breaks your heart when you heard of friend’s story of their pregnancy. Not because of your jealousy, but because of your loss.

I know how lonely you are, to feel the sorrow by yourself. Because you’re not having the trust to anybody, to talk about it.

I know how it feels, because I’ve experienced all of those things. I remember vividly, when I tried so hard to smile when I visit my newborn nephew, after being told that I might loss my baby. I lost the baby a week later, and dealt with the loss with my husband who went on duty thousands miles away from home.

This month is miscariage awareness. I give my heart to any mom who has gone through this. Yes, you’re a mom, with or without baby. You may find this novel as therapeutic as I do. I feel blessed after reading it.

Thank you for writing this book, Ika.

London’s Playground : Diana Memorial Garden

image

Salah satu hal yang saya suka saat bepergian ke negara maju itu pilihan playground yang banyak tersebar di seluruh penjuru kota.  Fasilitas publik ini gratis, bersih, dan sangat menghibur anak-anak tentunya.

Deeja lebih suka outdoor playground semacam ini. Di Jakarta atau Bandung sebenarnya sudah mulai banyak juga taman bermain gratis. Tapi sayangnya banyak yang alat permainannya sudah karatan atau bahkan rusak. Kalau indoor playground di mall, tiket masuknya saja sudah mahal sekali.

Selama di London, saya menyediakan waktu khusus untuk Deeja bermain di beberapa playground termasuk di Kensington Garden. Ada dua spot yang seru untuk bermain anak-anak di taman ini.  Yang pertama Diana Memorial Fountain, taman tanpa pembatas yang sering dijadikan tempat bermain dan bersantai, terutama anak-anak yang suka bermain air.  Karena cuaca masih dingin menjelang musim semi, saya memutuskan untuk tidak bermain di sini.

Yang kedua ada Diana Memorial Playground yang menjadi salah satu taman bermain favorit kami di London.  Pilihan mainan sangat banyak, terutama untuk anak yang lebih besar (usia TK-SD).  Foto di atas hanya sedikit dari permainan yang ada di sana. Rencana kami yang hanya sejam di sini, mundur menjadi hampir 3 jam.

Ada kedai penjual makanan di pintu masuk playground, bisa jadi pilihan tempat bersantai untuk yang ingin istirahat.  Banyak tempat untuk piknik juga, jadi orang tua tidak mudah bosan, anak yang lelah juga bisa beristirahat sebentar.

Karena berpembatas dan permainannya sangat terawat, ada waktu operasional untuk taman bermain ini dari pukul 10 pagi sampai pukul 4 sore.  Saya yang datang kepagian, akhirnya menunggu dulu di kolam dekat Kensington Palace dimana Deeja sibuk memperhatikan dan mengejar angsa.

Tips penting untuk kunjungan yang menyenangkan ke Diana Memorial Playground :
– Datang pagi untuk menghindari antrian. Saat kami pulang sekitar pukul 1, sudah mulai terlihat antrian masuk. Katanya semakin sore akan semakin ramai.
– Hindari kunjungan di akhir pekan karena sudah ramai sejak pagi. Sepertinya sih tidak akan sampai berebut mainan, tapi semakin padat tentu semakin tidak nyaman.
– Bawa bekal supaya bisa hemat pengeluaran untuk makanan
– Bawa peralatan main di pantai juga seru, karena ada kolam pasir yang cukup luas. Ada juga yang membawa otopet.

Semoga di Jakarta ada outdoor playground yang menyenangkan juga ya. Setidaknya seperti di Scientia Park nun jauh di Serpong sana laaah😉

Musim Dingin

image

Dulu waktu kecil, saya kira winter itu pasti bersalju dan hanya terjadi di negara-negara berbahasa Inggris. Lebih salah kaprah lagi, saya kira semua negara di Benua Eropa dan Amerika berbahasa Inggris dan mengalami empat musim 😁  Walaupun di sekolah saya suka pelajaran peta buta dan geografi, tetap saja saya tidak menyadari kesalahan asumsi saya.

Membutuhkan banyak perjalanan dan interaksi dengan orang hingga saya paham bahwa empat musim terjadi di tempat yang terletak di bagian utara atau selatan bumi, bukan tergantung negara atau benuanya.  Waktu ke Vietnam, saya baru sadar kalau Ho Chi Minh City mengalami dua musim, sedangkan Hanoi mengalami empat musim, padahal kedua kota tersebut ada dalam satu negara.

Waktu kuliah, pertama kalinya keluar negeri, saya pergi ke Jepang di musim panas. Setibanya disana, saya kaget karena suhunya sampai 41’C. Saya pikir kalau negara empat musim ya musim panasnya sejuk. Jadi saat itu saya bahagia sekali ketika akhirnya sampai di  Singapura sebelum pulang, sejuk! *Iya, 32’C itu sejuk ;)* Untungnya air keran bisa diminum, kalo tidak, bisa-bisa saya mati kehausan karena uang saku tidak cukup untuk jajan.

Dengan asumsi tanpa dasar pula, saya santai saat pertama kali pergi di musim dingin ke Beijing. Saya pikir tidak ada salju di Benua Asia. Saya tidak membawa winter coat, apalagi thermal wear. Sepatu juga cuma sepatu keds biasa. Sampai sana saya jatuh sakit karena suhu -5’C. Padahal salju sudah tinggal sisa saja, tapi tetap saja dingin.  Sesampainya di rumah, saya cuma bisa tergolek di tempat tidur hingga hampir seminggu.

Di perjalanan lain, lagi – lagi saya menyepelekan winter.  Saya santai saja saat tiba di Dubai. Saya pikir, paling sedingin Madinah saat musim haji lah. Hingga tiba waktunya saya keluar dari hotel hanya dengan selapis pakaian. Baru melangkahkan kaki di halamannya saja saya langsung memutuskan kembali ke kamar untuk mengambil jaket.  Suhunya memang hanya 12’C, tapi angin dinginnya menusuk kulit.  Nggak sanggup deh saya meneruskan berjalan kaki 500m ke stasiun kereta terdekat.

Setelah sekian kali salah paham dan salah kostum, saya tentu lebih mempersiapkan pakaian saat pergi.  Walau di Beijing sempat dapat sisa salju, tapi ternyata saya tetap norak saat pertama kali merasakan hujan salju. Saat jalanan sepi karena orang lebih memilih di rumah, saya malah sengaja menyusuri jalanan Istanbul demi merasakan hujan salju. Tanpa payung!😉

Alhamdulillah saya tidak pernah terjebak badai salju, hanya penundaan penerbangan selama beberapa jam saja. Saya baru tahu kalau pesawat harus di-coating bahan kimia tertentu sesaat sebelum lepas landas, jadi antrian pesawat di runway lebih lama dari biasanya.

Semua salah kaprah dan salah kostum itu terjadi karena saya tidak melakukan riset sebelum pergi.  Setelah banyak kesalahan itu, barulah saya mencari tahu tentang cuaca dan kebiasaan di tempat tujuan, terutama setelah punya bayi. Bahkan cenderung berlebihan menghadapi musim dingin. Terbukti dengan jarangnya bayi saya dipakaikan coat saat di Tunis. Tapi lebih baik berjaga-jaga. Gawat kan kalo sampai bayi saya sakit!

Tunisia (Ternyata) Menyenangkan

Pertama kali saya tau akan pergi ke Tunisia, saya membayangkan negara-negara Mesir atau  Middle East seperti Arab Saudi atau Uni Emirat Arab : tandus, gurun, kalaupun ada hijau-hijau pohon, pasti artifisial.  Membayangkan disana akan kedinginan karena mulai masuk winter, dan mati gaya karena weekdays tidak bisa kemana-mana.  Saya juga membayangkan Tunisia seperti negara Afrika lain yang terbelakang. Continue reading

Cerita – cerita Saat Menyeberang

Crossing the StreetSering merasa frustasi saat menyeberang jalan? Saya sering, apalagi kalau sedang berada di sekitar jalan Ciledug Raya atau Cipadu. Janganlah berharap pengendara motor menghormati pejalan kaki, rasanya malah semua motor ingin menyambar pejalan kaki yang “mengganggu” jalan mereka. Tapi chaos yang saya hadapi tidak ada apa-apanya dibandingkan saat harus menyeberang di Ho Chi Minh City. Continue reading