Moderen vs Tradisional

Walaupun kata orang sekarang udah jaman modern, nggak bisa dipungkiri kalau kita masih suka juga **at least kadang mencari** hal yang tradisional.. Apalagi sekarang juga lagi gencar-gencarnya kampanye kembali ke alam, dimana itu berarti pengurangan penggunaan mesin, bahan bakar, pengolahan yag rumit untuk mengurangi efek pemanasan global. Intinya : kembali ke cara lama

Kalau buat saya sendiri, yang sangat bergantung kepada teknologi macem komputer, handphone, dan penyuka makanan enak, tetep aja kalo untuk perawatan badan lebih suka yang tradisional. Luluran pake jamu2an, masker muka pake timun, minum jamu kadang2. Walopun menghabiskan sebagian besar hari di Jakarta, di business district, tapi saya tetep lebih suka kampung, gunung, pantai yang lebih sederhana.

Di Beijing juga cukup kontras. Mereka masih mengandalkan obat2an herbal tapi terus membangun sarana prasarana modern. Jalanan lebar-lebar, gedung bertingkat lumayan banyak, transportasi umum mudah dan cukup jelas petunjuknya, kendaraan banyak, macet, industri tumbuh pesat sampai polusi menjadi masalah di kota itu. Tapi di sisi lain, sepeda motor dilarang masuk kota Beijing, hanya sepeda onthel dan kendaraan roda empat atau lebih yang bisa menggunakan jalanan kota Beijing. Jangan salah lo, banyak juga profesional yang naik sepeda ke kantornya!

Di jalanan kita banyak lihat orang yang tampaknya tergesa-gesa menuju tempat kerjanya masing-masing, dari cerita-cerita juga kita tahu betapa workaholicnya mereka. Tapi kalau kita pergi ke taman-taman kotanya, banyak sekali orang yang menikmati hidup. Suasananya menyenangkan, banyak pohon **nggak tau pohon apa ya, tapi kalo musim dingin nggak kering loh!** dan banyak aktivitas. Ada yang tai chi, senam yg pake tongkat ada pita panjangnya itu **gak tau apa namanya**, ada juga yang coret-coret di lantai taman. Bukan grafitti gak jelas kaya disini, tapi tulisan cina entah apa yang yang mereka goreskan di lantai taman dari semen. Bukan pake cat, tapi pake air. Berhubung waktu itu lagi akhir musim dingin, jadinya tulisan air itu nggak cepat menguap.

Australia, yang menurut saya udah cukup modern, ternyata masih ada sisi tradisionalnya juga. Ada sydney yang metropolis, dengan pencakar langit dan beberapa rumah yang punya helipad (dengan helicopternya) atau dermaga dengan yacht-nya, tapi nggak jauh dari sydney kita bisa nemuin desa dan pertaniannya. Di hyde park dekat darling harbour, saya bahkan nemuin sekelompok orang yang lagi main catur raksasa. Ternyata mereka nggak se-individualis yang kita pikir kok!! Seneng aja liatnya, mereka jalanin bidak-bidak sebesar anak 1 tahun, melawan orang yang baru dikenal di taman itu.

Belum lagi diantara gedung pencakar langit itu masih ada taman yang banyak burungnya. Kalau lagi bosen kerja, bisa jalan2 ke taman yang jaraknya nggak jauh. Atau duduk aja di pinggiran darling harbor sambil baca buku. Gak bakalan terganggu sama asap knalpot deh dijamin! Water taxi-nya juga cukup berfungsi (Di Jakarta masih ada nggak ya? :P)

Tapi yang paling bikin saya terkejut, ya waktu saya ke Jepang. Dari awal datang ke Tokyo udah menikmati segala kemodernan jepang yang kita tau. Subway, hotel dengan toilet seatnya yang punya banyak tombol (padahal biasanya hanya ada tiolet flush), orang yang berjalan dengan tergesa-gesa, integrated public transport, proyektor (in focus) yang sama dengan kita, tapi mereka sangat meminta maaf karena proyektor yang bisa mereka dapatkan udah ketinggalan jaman 10 tahun, dan segala kemodernan lain.

Begitu sampai di hotel di Kyoto, saya cuma bisa bengong. Saya nginep di ryokan kecil. Kok nggak ada kasurnya? Kok cuma lantai polos, satu lemari kecil dan satu meja rendah? Hmm.. ini hall atau kamar sih sebenernya? Tapi begitu buka lemari, ternyata ada futon! Iya, saya tidur beralas futon yang kaya di film oshin gitu, yang dihamparkan di lantai. Empuk siy, tapi tetep aja lebih terasa kaya sleeping bag daripada tempat tidur😛

Kekagetan berlanjut sampe waktu mandi. Kok kamar mandi cuma ada dua (untuk 1 hotel kecil itu, satu untuk cewek, satu untuk cowok), terus, kenapa mau masuk kamar mandi harus bawa handuk kecil? Begitu buka pintu, saya tambah bengong. Ya ampuuunn, saya harus mandi disini? Nanti kalo ada orang lain masuk gimana? Kok rak handuknya ada di luar, di dalem nggak ada tempat untuk gantung handuk ya?

Jadi kamar mandinya itu adalah ruangan dengan ukuran sekitar 4x8m. Di pojok ruangan ada bak berendam sekitar 4×3 m dengan air panas. Sisa ruangannya : di tengah-tengah kosong melompong, dan di pinggir2 temboknya ada shower tapi Cuma setinggi pinggang! Di sisi kanan-kiri masing2 ada 3 shower yang jarak antar showernya sekitar 1,5m tanpa sekat, dan cermin di tiap2 showernya. Ini gimana cara mandinyaa?? Bisa saling lihat dooong karna ada cermin?!

Akhirnya saya tau, showernya cuma setinggi pinggang karna mandinya sambil duduk di dingklik! Kalo masalah mandi rame2, ya pasrah ajalah. Ngga mengintip supaya gak diintip juga. Trus handuk kecilnya (sekitar 30x70cm dan tipis banget) buat apa? Ya buat nutupin organ vital (depannya ajah!!) pas keluar masuk ruangan.. hehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s