Facing Reverse Culture Shock is Harder than the Culture Shock Itself

Hari ini ada seorang teman yang baru kembali dari magang 2 bulan di kantor cabang, yang mulai kesal dengan segala perbedaan antara di Jakarta & Singapura.  Sebetulnya yang dia keluhkan adalah hal yang memang sudah terbiasa terjadi di Indonesia, hal yang sama dengan sebelum kepergiannya, hal yang lumrah.  Tapi buat dia itu beda, dan berat, karena dia sempat ada di tempat, budaya & kebiasaan yang lain.

Buat yang nggak pergi, mungkin sikapnya terasa berlebihan.  Tapi itulah reverse culture shock, yang juga pernah beberapa kali saya alami. Perjalanan itu, sedatar apapun,  tanpa kita sadari pasti membuat kita berkembang (evolve) dan  sangat mungkin menjadikan kita “orang yang beda” dalam pola pikir, kebiasaan, dll.

Saat berangkat bepergian, saya biasanya memang sudah siap dengan kemungkinan culture shock.  Tetap akan selalu ada hal yang mengejutkan sih, tapi selama kita bisa membuka pikiran dan menyerap perbedaan untuk dipilih & dipilah, pasti akan baik-baik saja.

Kepergian lebih dari 2 minggu sudah bisa bikin aku terkena reverse culture shock.  Biasanya terjadi karena budaya berbeda yang kutemui, yang membuat aku berharap Indonesia bisa jadi seperti negara yang aku kunjungi.  Padahal, kepergian secepat itu apa yang bisa diubah sih?

Bepergian bisa mengubah persepsi yang sudah ada.  Hal yang tadinya saya suka, bisa jadi nggak suka.  Tadinya makan spaghetti di pizza hut itu udah enak, tapi setelah makan di tempat asalnya, jadi biasa aja.  Dari nggak tau jadi tau.  Sebelumnya nggak kenal macarons/takoyaki  itu apa, setelah nyoba jadi ketagihan.  Dari tadinya biasa aja kalo ada yang nyelak antrian, sekarang saya galak sama tukang nyelak😉

Sebab lain bisa karena perbedaan kebiasaan.  Nggak usah dengan negara lain deh.  Kuliah & kost di Bandung pastinya membuat saya berubah jadi lebih mandiri, terbiasa sendiri termasuk mengambil keputusan & menjalani hidup.  Saat kembali ke rumah Bogor (reverse culture shock), saya kaget karena harus kompromi dengan orang rumah.  3,5 tahun terbiasa apa-apa sendiri, rasanya nggak kaya pulang ke rumah.

Mas Ridho pun tiap ke Libya 6 minggu juga pasti kena reverse culture shock.  Ditambah jetlag, lengkap sudahlah penderitaan.  Saya yang ditemui 6 minggu yang lalu pasti beda dengan saya yang ditemui sekarang.  Walaupun cuma kebiasaan kecil, pasti terasa.

Buat kita yang ada di sekitar lingkungan orang yang terkena reverse culture shock, banyak sabar aja lah.. Buat yang bersangkutan, yang telah melakukan perjalanan pulang, menghadapi reverse culture shock itu jauh lebih berat daripada menghadapi culture shock itu sendiri.  Menurutku itu semua tergantung ekspektasi yang di-set sebelumnya, dan gimana kita me-manage ekspektasi itu.  Traveling is fun, so don’t ruin it when you come back.  Welcome home🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s