Bangladesh Tidak Hanya Tentang Kemiskinan & Tempat Kumuh

Sore ini di Masjid Nabawi, saya memilih untuk tidak pulang ke hotel setelah solat Ashar demi beribadah lebih lama.  Tapi ternyata saya tidak khusuk karena mengantuk, jadilah mulai tengok kiri-kanan mencari teman baru.  Sebelah saya cewek Bangladesh yang umurnya 22 tahun.  Dia sudah menikah 3 tahun, tapi belum ada anak.  Saat saya tanya kenapa menikah di usia yang sangat muda, menurutnya dia sudah agak tua ketika dijodohkan.  Teman-teman sebayanya sekarang sudah punya anak yang sudah usia sekolah.

Dia merasa beruntung mendapat suami yang berpikiran terbuka.  Ia didorong oleh suaminya untuk terus melanjutkan sekolah, dan sekarang ia sedang mengerjakan skripsi bachelor-nya, semua dengan biaya dari suaminya yang karirnya sangat bagus.  Ia juga merasa beruntung suaminya mengajaknya berhaji selagi muda.  Mayoritas orang Bangladesh yang saya temui memang sudah tua, bahkan renta.

Sama seperti Indonesia dan negara berkembang lainnya, menurutnya golongan menengah juga mulai kuat di Bangladesh. Kemiskinan memang masih banyak, tapi ada kemajuan di negaranya walaupun tidak sepesat India, negara tetangganya.  Dia sendiri berbahasa Inggris cukup baik, yang menurut saya merepresentasikan kualitas pendidikan yang dia dapatkan.

Saya jadi ingat beberapa sore yang lalu di Masjidil Haram.  Saya dicolek duluan oleh ibu tua yang ternyata juga dari Bangladesh.  Bayangan saya tentang Bangladesh yang kumuh dan miskin buyar setelah mendengar ceritanya, apalagi saat dia cukup tahu tentang Indonesia terutama Bandung dan makanannya yang enak-enak.

Dengan bahasa gado-gado Inggris, Bangla, dan bahasa tarzan, dia berkata salah satu anaknya ada yang kuliah kedokteran di Unpad. Almamaterku! Anaknya yang lain ada yang jadi businessman, ambil MBA di Inggris, guru bahasa Inggris di SMA Internasional, dan ada yang sudah jadi profesor ekonomi di salah satu universitas di Dakka.  Suaminya sendiri adalah bankir di bank negara yang cukup sukses.

Dari cerita mereka, Bangladesh tidak hanya berisi kemiskinan dan tempat kumuh.  Mereka juga ingin maju, dan sama seperti negara manapun di dunia ini : ingin lebih meningkat kesejahteraannya dengan melawan stereotipe yang sudah ada.  Bangladesh sekarang saya masukkan ke negara yang ingin dikunjungi🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s