Jalan-jalan itu (Tidak Berarti) Mahal

Sering sekali saya menerima sapaan : “Enak banget sih jalan-jalan melulu!  Banyak uang ya?” Biasanya sih saya balas dengan senyuman, atau pertanyaan : kapan lagi?  Padahal, jalan-jalan itu nggak selalu enak. Dan nggak selamanya liburan itu menghabiskan banyak dana.  Hal yang penting buat kami :

Rajin Nabung

Semurah-murahnya, liburan itu tetep butuh dana.  Bagi saya, uang tidak bisa tinggal petik dari pohon. Untuk tujuan jalan-jalan terutama dengan jarak jauh, liburan nggak jatuh dari langit begitu saja.  Saya sangat rela memangkas dana hura-hura atau dana gaya hidup demi bisa jalan-jalan.  Ada sebagian teman yang kalau kemana-mana harus naik taksi, harus punya tas/sepatu merk tertentu, harus selalu nonton konser atau hiburan yang sedang jadi tren, atau kalau weekend haram hukumnya dihabiskan dirumah saja.  Saya? Rela ke kantor naik metromini, nggak harus pakai barang bermerk mahal, nggak mampir kemana-mana sepulangnya dari kantor, dan sering banget weekend di rumah saja.  Itu pilihan agar bisa menabung untuk jalan-jalan.

– Riset sebelum Liburan

Tipe perjalanan yang biasa saya pilih adalah dengan budget terbatas, dengan tujuan utama agar budget yang tersisa bisa dialokasikan untuk liburan lain :p Jauh sebelum keberangkatan, bisa 1 bulan atau satu tahun sebelumnya, saya sudah riset terutama mengenai perkiraan biaya dan tempat-tempat yang akan dikunjungi.  Riset ini termasuk hunting tiket & hotel murah tapi nyaman (ini faktor U kayanya :p), 2 komponen biaya terbesar, dan mencari tahu fasilitas apa saja yang bisa kita dapatkan dengan membeli tiket/hotel tersebut.  Jalan-jalan gratis di Dubai atau mendapat diskon untuk tiket Disneyland? Bisa banget! Dari situ saya bisa memperhitungkan berapa dana minimal yang dibutuhkan, dan berapa tabungan minimal per bulannya agar bisa berangkat.  Kalau ternyata tabungan bisa lebih banyak dari budget, berarti kami bisa beli kenyamanan🙂

– Senang di Tengah Keterbatasan

Senang itu terkadang sederhana.  Bisa tidur nyenyak di bangku airport yang super dingin atau di cuaca panas dalam kamar tanpa AC seharga 80ribu/malam : senang.  Terbang sendirian pisah pesawat atau naik bus/ferry demi tiket murah : bersyukur masih bisa liburan.  Jalan kaki berkilo-kilo meter jauhnya demi hemat ongkos transport, atau tersesat : senang karena banyak hal lain yang bisa dilihat.  Makan di gerobak abang-abang atau bawa bekal untuk makan di bangku taman : alhamdulillah masih bisa makan.  Makan sepiring berdua suami : romantis😉 Bahkan berselisih pendapat di tengah perjalanan juga dinikmati, karena membuatku lebih kenal karakter teman satu perjalanan.  Intinya : sadar diri tidak menuntut terlalu banyak dengan budget yang terbatas.

– Travel Light

Mau pergi 2 hari atau 2 minggu, semua barang bawaan harus cukup dalam satu cabin size luggage.  Dengan hanya satu cabin size luggage, saya tidak perlu beli bagasi, tidak perlu sewa taksi dari airport, tidak perlu sewa locker yang besar untuk menitipkan tas, tidak merasa terbebani saat harus berjalan jauh dengan bawaan, termasuk tidak perlu belanja berlebihan😉

Kecuali punya dana tak terbatas, atau ada business trip atau liburan atas dukungan pihak lain itu lain cerita, kenyamanan sudah pasti didapatkan dengan gratis.  Tapi tentunya ada tanggung jawab lain menanti, yang mengurangi esensi perjalanan bagi saya.  Saya tetap paling suka jalan mandiri, atur semua sendiri, dan menikmatinya sepenuh hati🙂

One thought on “Jalan-jalan itu (Tidak Berarti) Mahal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s