Kenapa Suka Solo?

Solo yang dimaksud disini bukan kata yang bermakna satu atau tunggal, tapi nama sebuah kota di Jawa Tengah yang juga dikenal secara administratif dengan nama Surakarta.  Banyak fakta menarik dari kota ini, tapi buat diri saya pribadi, kota ini sangat penting artinya. Sedemikian pentingnya hingga kalau kota ini tidak ada, saya pun tidak akan ada di dunia ini karena telah menjadi tempat lahir saya. Mama & Bapak, kedua orang tua saya, lahir dan besar di Solo.  Orang tua mereka (eyang-eyang saya) juga tumbuh besar di kota ini.

Tempat wajib kunjung saya sekarang ini adalah TPU Bonoloyo dimana eyang dari Bapak dimakamkan, dan makam keluarga di Gentan dekat Pajang untuk keluarga Mama.  Kalau tempat wajib kunjung saya dalam hal makanan : soto ayam ngGading, sate buntel Mbok Galak di Sumber, sego liwet dan wedang kacang putih di Keprabon, sego pecel ndeso di sekitar Manahan/Urip Sumoharjo, Bakso Kalilarangan, Serabi Notosuman, Kupat Tahu Masjid Solikhin, gudeg ceker Margoyudan, roti semir Orion, es coklat Saerah, es dawet Pasar Gede, timlo. Solo juga juara untuk urusan jajanan pasar.  Dari mulai ketan bubuk juruh, karak sambel, es ting-ting tape, arem-arem & abon Varia, juga cabuk rambak.  Buanyak yaaa??? Tapi saya rela untuk menggendut selama beberapa hari di Solo😉 Suamipun langsung jatuh cinta sama makanan di Solo.

Hal lain yang saya suka dari Solo, adalah keapikan dan kebersihan kotanya.  Jalanan Solo mulus tanpa lubang bahkan sampai ke dalam gang.  Perkembangan kebudayaan juga menarik untuk disimak. Keraton sebagai pusatnya, memiliki banyak tradisi yang layak dilestarikan.  Salah satu acara yang suka saya datangi adalah sekatenan, atau kalau di tempat lain dikenal dengan nama Grebeg Mulud yang berlangsung dengan meriah.  Pasar malam adalah atraksi menarik dengan aneka ragam jajanan dan permainan seperti tong setan, goa hantu, bianglala, dan ombak banyu yang semua digerakkan secara manual dengan tenaga manusia.

Solo batik carnival adalah salah satu festival lainnya.  Pertama kali diselenggarakan tahun 2008, festival ini digagas salah satunya untuk mempromosikan Solo yang mengidentifikasikan dirinya dengan batik.  Festival ini berlangsung di jalanan sepanjang 5 km di Jalan Slamet Riyadi, salah satu jalanan utama kota Solo.  Ya, Solo memang terkenal sebagai kota batik.  Laweyan adalah salah satu kampung yang sejak dulu menjadi pusat para pembatik.  Ibu-ibu membuat batik di rumah masing-masing, kemudian dikumpulkan ke saudagar yang akan menjual batik-batik tersebut ke pasar.  Salah satu pasar batik yang terkenal adalah Pasar Klewer yang terletak di dekat Masjid Agung Keraton Kasunanan Surakarta.  Kampung Laweyan sendiri sekarang sudah menjadi salah satu tujuan wisata budaya.

Kalau mau tahu lebih banyak tentang batik, Museum Danar Hadi yang terletak di Jl Slamet Riyadi adalah tempat yang wajib dikunjungi.  Tidak seperti kesan museum di Indonesia yang pada umumnya kumuh, disini suasananya menyenangkan.  Guide-nya sangat informatif, menjelaskan dengan enak, pengetahuannya luas, dan bisa diajak bercanda juga.  Kita bisa melihat proses membatik, bahan-bahan yang digunakan, motif batik beserta maknanya, hingga koleksi batik sejak jaman VOC dulu.  Koleksinya tidak hanya terbatas pada batik Solo yang bernuansa gelap, tapi juga batik Yogya, batik Cirebonan, batik pesisir yang colorful, hingga batik peranakan dan batik Belanda.  Datanglah sebelum jam 3 sore supaya bisa melihat proses pembuatan batik.

Car free day adalah event mingguan/bulanan yang beberapa tahun ini sedang marak di kota-kota besar, sebagai bentuk keprihatinan atas pencemaran lingkungan hidup.  Dibandingkan Jakarta dan Bogor, kegiatan-kegiatan di event car free day Solo jauh lebih menarik.  Yang sempat saya lihat misalnya blind badminton, dimana netnya bukan berupa jaring-jaring, namun sehelai kain hitam yang menghalangi para pemainnya saling berpandangan.  Jadi pemain lawan tidak bisa memprediksi kemana shuttle cock akan mendarat.  Ada juga panjat dinding dan panjat jembatan penyebrangan.  Tidak ketinggalan kegiatan favorit para priyayi : pameran ayam bekisar dan burung merpati!

Kota Solo sangat memperhatikan kebutuhan masyarakat akan ruang publik. Selain alun-alun kedua keraton yang sudah sejak dahulu kala menjadi tempat berkumpulnya masyarakat serta Jalan Slamet Riyadi yang menjadi area car free day dan Solo Batik Carnival, ada dua area lain yang juga sesekali dialihfungsikan menjadi ruang publik : Ngarsopuro dan Gladak.

Setiap malam Minggu, jalanan di depan Pura Mangkunegaran berubah menjadi Ngarsopuro Night Market, yang merupakan bazaar rakyat yang menjual aneka macam souvenir, barang antik, aksesoris, kerajinan tangan, ataupun hanya sebagai tempat berkumpul sambil makan lesehan.  Terkadang ada live music juga yang ditampilkan oleh komunitas musik di Solo.  Sebelum ada Night Market di tahun 2009, salah satu gang di Ngarsopuro, yaitu Triwindu, sudah menjadi pusat pasar barang antik.  Ada juga soto daging enak😉

Area di sekitar Gladak berubah menjadi pusat wisata kuliner Gladak Langen Boga (Galabo) di malam hari.  Di pinggir jalan, dengan rapi berjajar pedagang kaki lima yang menjual makanan khas Solo.  Kalau hanya punya waktu terbatas tapi ingin mencicipi banyak makanan enak yang hanya ada di Solo, datanglah kesini.  Semua makanan yang sudah saya sebutkan sebagai makanan wajib sebelumnya, lengkap ada disini.  Tapi kalau punya waktu cukup, saya merasa lebih nikmat datang ke tempatnya langsung.  Pasar Gede, pasar induk di Solo, adalah satu-satunya pasar Induk yang pernah dan sering saya datangi.  Tidak seperti pasar induk Caringin di Bandung atau Kramat Jati di Jakarta yang di halamannya saja sudah terkesan kumuh, Pasar Gede di Solo ini relatif bersih.  Yang paling penting adalah ada es dawet enak disini.  Airnya dijamin matang, udah hampir 30 tahun saya jajan disini, tidak pernah sakit perut.  Es dawetnya tidak seperti es dawet ayu yang banyak kita temukan tersebar di kota lain.  Rasanya lebih ringan dan segar.  Disebelah mbok penjual dawet, ada mbok penjual ayam kampung goreng yang juga enak.  Semacam ayam goreng Sukabumi lah.

Selain wisata kuliner dan wisata budaya yang memang unik, Solo juga punya wisata alam yang cukup menarik.  Tawangmangu, semacam Puncak-nya Solo yang hanya sekitar satu jam perjalanan dari pusat kota, memiliki air terjun setinggi 80 meter yang cipratan airnya bisa kita rasakan dari jarak lebih dari 100 meter.  Tawangmangu ini terletak di Gunung Lawu, Karanganyar.

Pemandangan alam yang menarik juga bisa kita temui di perjalanan menuju makam keluarga Mangkunegaran di Matesih, serta makam Presiden Soeharto & Bu Tien di Mangadeg, masih di Karanganyar.  Mengarah ke Wonogiri, ada Waduk Gajahmungkur yang merupakan waduk buatan.  Saya pernah datang ke salah satu desa yang sekarang sudah terbenam menjadi waduk, jadi masih ada rasa tidak tega kalau harus berwisata kesana.  Kalau tidak ada kesan emosional sih, berwisata ke Waduk Gajahmungkur lumayan menyenangkan karena banyak fasilitas bermain terutama untuk anak-anak.

Tempat wisata budaya lain di Solo adalah taman budaya Sriwedari, yang jadi pusat pertunjukkan wayang dan teater. Mau pertunjukkan wayang orang, wayang kulit, yang semalam suntuk, atau hanya beberapa jam saja bisa kita temukan disini.  Srimulat pun awalnya memulai karirnya dengan tampil di panggung Taman Sriwedari selain di Taman Balekambang.

Untuk semakin dapat menarik wisatawan, mulai tahun 2011 ini pemerintah kota Solo mendatangkan bis tingkat warna merah menyala yang dinamakan Werkudoro.  Setau saya, baru Solo yang punya bus wisata yang jalurnya mengelilingi kota agar wisatawan dapat menikmati highlight kota Solo.  Dimulai dari kantor Dinas Perhubungan di Manahan, bus ini berjalan menyusuri GOR Manahan, Jl Slamet Riyadi, taman budaya Sriwedari, Gladak, Pasar Gede, Jl Urip Sumoharjo, sampai kebun binatang Jurug dan kembali ke Manahan.  Walaupun belum bisa dimanfaatkan sebagai hop-on hop-off bus seperti di negara lain, buat saya ini sudah cukup mendobrak standar pariwisata di Indonesia.

Seminggu di Solo tidak akan membuat saya bosan, jadi kalau hanya bisa datang di akhir minggu rasanya kurang puas.  Jadi rindu masa-masa masih ada eyang dan saya bisa berlama-lama di Solo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s