Jajan (Sambil Jongkok) di Saigon

Saya merasa kurang lengkap mengunjungi Vietnam kalau tidak mencoba salah satu makanannya yang sudah mendunia : pho.  Saya juga merasa pho yang paling autentik adalah yang banyak dikunjungi orang lokal.  Dengan perasaan itulah, saat akhirnya saya ke Saigon atau sekarang dikenal dengan nama Ho Chi Minh City (HCMC), saya dan teman-teman berburu phodi antara jadwal yang cukup padat.  Di dekat hotel tempat kami menginap kebetulan ada satu kedai pho pinggir jalan yang sangat ramai didatangi orang lokal.

Setelah kenyang makan pho, kami melanjutkan pencarian ciri khas vietnam yang lain : kopi🙂 Selain rasa kopinya yang unik, penyajian kopi dengan cara tetes (dripping) juga menarik. Berhasil membuat kami menunda minum kopi hingga tetes terakhir keluar dari coffee dripper.

Di hari lain, kami sempat kabur dari rombongan dan jalan-jalan mengeksplorasi distrik satu HCMC.  Saat sudah kehausan dan ingin berteduh dari sengatan matahari, mampirlah kami ke salah satu kedai es krim seperti yang terlihat pada foto di atas.  Entah rasanya memang enak, tempatnya yang enak, atau karena kami kehausan, rasanya kami puas makan es krim siang itu.

Tapi sekarang saya tidak membahas tentang kopi, es krim, atau pho yang rasanya memang lebih enak di negara asalnya daripada pho yang dijual di Indonesia.  Ada kesamaan di ketiga tempat yang saya datangi, yang membuat saya jadi mengamati tempat jajan lain di HCMC : tempat duduknya amat rendah!  Karena rendahnya tempat duduk, otomatis ketinggian mejapun mengikuti ukuran kursi.  Di foto itu terlihat betapa kaki kami beradu langsung dengan meja.  Ukuran kursinya seperti kursi yang suka dipakai oleh pembantu saya saat mencuci baju.  Jojodog namanya menurut Bahasa Sunda.  Tidak heran kalau posisi duduk kami menjadi seperti sedang jongkok.

Perbedaan ketiga tempat itu ada di mejanya.  Di kedai pho, setiap orang mendapat kursi dan meja masing-masing, tidak saling berbagi meja walaupun letaknya berdempetan.  Uniknya, saya hampir tidak bisa membedakan yang mana meja yang mana kursi karena keduanya sama rendahnya! Setelah memperhatikan orang lokal, barulah saya mengerti bahwa ada beda ketinggian antara kursi dengan meja.  Di kedai kopi malah tidak saya temukan meja sama sekali, jadi kita bisa duduk ngariung di kursi rendah itu.  Barulah saya temukan meja normal di kedai es krim, walaupun tingginya masih “tidak normal”.

Beberapa waktu kemudian, saya baru tau dari teman yang orang Vietnam bahwa mereka suka makan di kursi rendah seperti itu supaya lebih akrab.  Rasanya perkataan dia memang benar, lutut dan sikut kami saling beradu dengan duduk begitu rendah, lingkaran semakin kecil, mengobrol juga jadi lebih mudah karena tidak perlu meninggikan suara.  Kami juga menjadi relatif setara, perbedaan badan yang tinggi dan pendek tidak terlalu kentara😉  Buat orang Vietnam yang mayoritas kecil dan langsing, jajan sambil jongkok seperti itu tentu bukan masalah.  Persoalan muncul bagi mereka yang berbadan besar atau berkaki panjang.  Duduk di jojodog sungguh membuat mereka tersiksa karena terbatasnya ruang gerak.  Seorang teman sampai akhirnya memilih makan sambil berdiri karena tidak tahan, hehehe..

Jadi di Vietnam, sangat mudah mengakrabkan diri dengan siapapun.  Jajan saja di kedai yang banyak tersebar diseluruh penjuru kota, duduklah (atau jongkok :p ) di kursinya yang membuat kita mau tak mau bersentuhan kulit dan duduk sama tinggi, maka obrolanpun akan lancar mengalir🙂

One thought on “Jajan (Sambil Jongkok) di Saigon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s