Stranded in Bali

Stranded in BaliSaya tidak pernah bermimpi ke Bali dalam keadaan luar biasa. Mayoritas orang yang bepergian ke Bali tentu karena ingin berlibur, atau seburuk-buruknya karena ada pekerjaan. Tanggal 16 Desember kemarin, akhirnya untuk pertama kalinya saya mengalami emosi campur aduk karena ‘salah tujuan’. Rencananya sih terbang ke Jakarta, tapi apa daya kami malah mendarat di Bandara Ngurah Rai.

Saya terbang sendirian dari Melbourne jam 8 pagi dengan Qantas. Semua awalnya baik- baik saja, bahkan saya sempat memanfaatkan waktu transit sekitar 5 jam untuk main ke (Sydney) City. 20 menit sebelum mendarat di Soetta, saya sudah merapihkan selimut, headset, sampah, dokumen yang diperlukan di imigrasi, termasuk uang kecil supaya tidak perlu repot bongkar tas di bandara. Tiba-tiba pilot mengumumkan bahwa pesawat harus berputar karena kehilangan kontak dengan ATC CGK. Sayapun mengeluarkan kembali buku yang sudah saya masukkan ke tas dan lanjut membaca.

Setengah jam kemudian, saya tersadar bahwa pesawat belum menunjukkan tanda-tanda mau mendarat. Saya terkejut saat melihat flight path di TV, kami sudah berada di sekitar Semarang-Jepara. Tak lama kemudian, pilot mengumumkan bahwa kami akan mendarat di Bali demi keselamatan penerbangan. Saya yang sudah senang mau pulang ke rumah, langsung drop karena semua lelah langsung terasa di badan.

Semua informasi simpang siur, informasi yang diumumkan pilot pun terus berubah. Semua baru jelas saat saya mendarat di Bandara Ngurah Rai dan menelepon keluarga. Ternyata radar navigasi di Soetta mati dengan alasan yang menurut saya konyol. Saya hanya bisa menghela napas panjang.

Tidak banyak yang bisa dilakukan untuk keadaan luar biasa seperti ini. Saya hanya bisa menyarankan 3 hal :
1. Sabar
2. Ikuti semua prosedur yang diminta
3. Ikuti perkembangan via website airlines walau kurang membantu

Marah-marah ke ATC Soetta karena kejadian konyol tidak akan menyesaikan masalah. Airlines pun di awal kejadian tidak punya banyak informasi yang bisa diberikan. Kami semua kebingungan saat mendarat di Bandara Ngurah Rai.

2 jam pertama, tidak ada seorangpun yang bisa keluar dari pesawat. Tidak ada makanan (hanya bisa minta minum) dan tidak bisa pipis adalah ujian pertama kesabaran kami. Untungnya pilot mengijinkan kami menghidupkan peralatan elektronik supaya bisa berkabar.

Tidak ada yang tahu kapan kami akan melanjutkan penerbangan ke Jakarta saat itu, termasuk kru pesawat. Setelah ada kabar bahwa perjalanan kami akan tertunda selama minimal 12 jam, kami tetap harus tinggal di pesawat sampai semua urusan administrasi dan akomodasi diurus oleh ground handling crew.

Saat akhirnya diperbolehkan untuk keluar pesawat, ujian kesabaran untuk menunggu dan mengantri pun dimulai. Hanya ada 1 bus besar dan 2 bus ukuran kopaja yang bolak – balik mengangkut sekitar 420 penumpang dari pesawat ke terminal kedatangan. Awalnya hanya ada 3 petugas di imigrasi, yang kemudian ditambah menjadi 5-6 orang. Kami juga harus menunggu cukup lama untuk mengambil bagasi, kendaraan ke hotel yang hanya ada beberapa bis kecil, bahkan untuk check-in hotel. Sampai sesaat sebelum naik bus, saya masih belum tahu akan diinapkan dimana. Saya hanya ingin istirahat.

Awalnya kami di drop di Ramada Hotel. Namun saat antrian di depan saya tinggal 1 orang, petugas Ramada Hotel mengumumkan bahwa kamar sudah habis. Keresahan makin melanda, semua sudah lelah. Saat diumumkan bahwa sisa penumpang akan dialihkan ke Bintang Kuta Hotel, saya langsung berlari ke hotel yang terletak tepat di sebelah Ramada Hotel.

Kelelahan dan ketidakjelasan membuat banyak orang menjadi liar. Saya yang menjadi 5 orang pertama yang mencapai front desk Bintang Kuta Hotel sempat marah ke mas-mas yang menyerobot antrian. Tapi kemudian saya hanya bisa terpana saat banyak orang tidak mau mengantri. Resepsionis saat itu masih bingung melihat banyak orang, dan tidak tahu bahwa akan ada penumpang Qantas yang bermalam disana. Saya sempat dimintai kartu kredit untuk pembayaran, namun saya bersikeras bahwa semua menjadi tanggungan Qantas. Baru 10 menit kemudian kami bisa mulai mendapat kamar. Jam 12 malam akhirnya saya bisa masuk kamar, 4,5 jam setelah landing!

Saya me-mention @QantasAirways untuk mencari informasi tapi tidak segera terbalas (baru dibalas pagi saat saya sudah di airport). Bule yang satu lantai dengan saya sudah mengecek website Qantas, dan ternyata ada informasi bahwa QF41 akan terbang lagi 17 Desember pukul 11.30. Walaupun saya tidak tahu kapan kami harus ke bandara, setidaknya saya bisa memperkirakan waktu berangkatnya.

Saat terbangun pukul 4.30 pagi, sudah ada surat pengumuman resmi dari Qantas di bawah pintu. Sarapan akan mulai tersedia mulai pukul 6.30, kami berangkat ke bandara pukul 8 pagi, dan akan take off pada pukul 11.00. Pukul 5.30 sudah ada morning call, dan semua penumpang mendadak menjadi morning person : sarapan dengan muka mengantuk😀

Kegiatan menunggu dan mengantri tentu saja masih berlanjut, 420 penumpang berkumpul dalam satu waktu dan tempat tentu saja membuat segalanya terasa jadi lebih lama. Kalau jadi organizer, kejadian luar biasa ini mungkin membuat kepala saya pecah😀

Drama juga masih berlanjut. Karena ada beberapa penumpang yang melanjutkan penerbangan pagi dengan usaha dan biaya sendiri, maka manifes orang dan barang (kata kru pesawat) dibuat manual. Penerbangan pun tertunda 1,5 jam.

Pada saat akhirnya mendarat di Soetta sekitar pukul 2 siang, semua penumpang bertepuk tangan.  Saya merasa luar biasa lega, dan terus senyum melihat kemacetan Jakarta yang sedang diguyur hujan. Akhirnya pulang!! What an experience!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s