Tunisia (Ternyata) Menyenangkan

Pertama kali saya tau akan pergi ke Tunisia, saya membayangkan negara-negara Mesir atau  Middle East seperti Arab Saudi atau Uni Emirat Arab : tandus, gurun, kalaupun ada hijau-hijau pohon, pasti artifisial.  Membayangkan disana akan kedinginan karena mulai masuk winter, dan mati gaya karena weekdays tidak bisa kemana-mana.  Saya juga membayangkan Tunisia seperti negara Afrika lain yang terbelakang.

Datang dengan ekspektasi seperti itu, saya akhirnya kaget melihat Tunisia yang sangat jauh dari bayangan.  Saat baru mendarat, bayangan itu memang masih belum terhapuskan setelah melihat Bandara Internasionalnya yang masih lebih kuno daripada Soekarno-Hatta. Pun setelah keluar dari bandara yang jauh lebih kecil dari Cengkareng.

Saya mulai senang saat melewati highway menuju La Marsa, suburb-nya Tunis. Negara ini tidak terasa seperti di Afrika (Tengah) yang kesannya kumuh, tapi juga tidak semodern Dubai, tempat transit saat menuju Tunisia. Highway-nya lebih lebar dari Jagorawi, dan gratis.

image

Weekdays pun tidak membosankan. Saya tinggal di Golden Tulip Hotel, yang areanya sangat luas karena ada resort dan perumahan, jadi setiap hari menjelajahi area yang berbeda. Restoran pun ada beberapa, jadi ada pilihan untuk makan supaya tidak bosan.  Kalau perlu sesuatu, ada hypermart Carrefour dan Geant di suburb lain. Hal lain yang membuat aku terkejut : perempuan bebas menyetir dan bepergian sendiri.

image

Kejutan lebih besar dimulai saat weekend. Saatnya berjalan-jalan. Sepanjang perjalanan dari La Marsa ke Hammamet saya disuguhi pemandangan cantik. Perbukitan hijau, pepohonan yang berbaris rapi, bahkan deretan kaktus pun menyejukkan mata.  Kali ini highway-nya bayar. Gerbang tolnya agak mirip dengan yang di Saudi Arabia dan Indonesia juga.

Saat tiba di Hammamet, kawasan pantainya cukup tertata. Walaupun kecil, Tunisia memperhatikan sektor pariwisatanya. Bahkan banyak juga yacht yang bersandar di dermaganya, seperti yang terlihat di foto pertama.

image

Memang sih, daerah yang jauh dari highway cenderung agak kumuh.  Itu justru mengingatkan saya pada jalur pantura Pulau Jawa : panas, berdebu, berantakan.  Tapi pusat kota Tunis sangat menarik kok, mengingatkan saya pada Champ de Elysees di Paris. Lihat perbandingan keduanya.  Pohon yang berderet di kanan-kiri sepanjang jalan, ada arc de triomphe di salah satu ujungnya, dan tugu/obelisk di ujung yang lain.  Sepanjang jalan juga banyam tersebar butik dan coffee shop.

image

Sidi Bou Said yang terletak di Greater Tunis juga tidak kalah menarik. Desa yang seluruh bangunannya berwarna putih biru ini memiliki view yang mengingatkan saya pada Yunani.  Saya merasa dimanjakan dengan pemandangan Tunisia yang indah.

Untuk cuaca, memang sudah mulai dingin. Tapi kelembabannya tinggi, jadi rasanya seperti di Bromo. Ini yang tidak saya duga sebelumnya, jadi agak kaget saat mengurus jemuran yang lama keringnnya 😅

Ya, Tunisia memang bukan destinasi wisata yang umum buat orang Indonesia, tapi selama disana saya betah🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s