Anak Tantrum dan Reaksi Sekitar

20150528_173459-01Setiap anak pasti pernah tantrum. Wajar, karena itulah cara mereka meluapkan emosi. Kalau sedang di rumah sih, saya bebas mengatasi tantrum anak. Tapi kalau sedang di luar rumah, bisa membuat semuanya jadi serba salah.

Ketiga anak saya kalau sedang tantrum atau cari perhatian, dibujuk dengan cara apapun malah membuat mereka menangis lebih kejer. Jadi yang paling sering saya lakukan adalah menemani anak menangis sampai capek sendiri. Syukur-syukur kalau anaknya mau dipeluk.

Di masa awal menjadi ibu, saya kadang panik menghadapinya akibat reaksi orang di sekitar. Ada yang menatap penuh iba, ada yang berusaha membantu, ada yang memberi tatapan terganggu, ada yang manatap sinis seakan-akan saya ibu paling durhaka sedunia *lebay*.

Saya berterima kasih sekali kepada orang-orang yang hanya menatap penuh iba, apalagi yang memberi senyum menguatkan. Kadang saya merasa terganggu dengan orang yang berniat memberi bantuan, karena sebenarnya mereka kan tidak tahu saya dan anak saya seperti apa. Jadi bantuan tersebut malah mengganggu kami yang sedang berproses meredakan tantrum. Kalau ditatap sinis, saya pasrah hehehe. Mungkin ini karma yang saya dapat, karena saya merasa terganggu kalau ada anak menjerit saat dulu belum punya anak.

Tapi ternyata, tatapan dari orang lain itu hanya saya dapatkan saat saya di Indonesia. Pernah juga sih di Singapura, tapi ternyata yang menatap orang Indonesia juga. Jadi lama-lama saya tidak peduli dengan sekitar, yang penting saya dan anak saya segera tenang. Kalau saya panik, tantrum akan semakin hebat.

Lain padang memang lain belalang ya. Saat saya dan anak ke Istanbul dan Tunis, saya sadar bahwa orang sana suka dengan anak-anak. Kemanapun kami pergi, pasti ada saja yang menghampiri, mencium dan menggendong, juga menghibur bayi terutama saat orang tuanya kerepotan. Jadi jarang sekali anak merasa bosan. Kalaupun sampai rewel, tidak pernah sampai tantrum karena banyak yang mengalihkan perhatiannya.

Dilematis buat saya sebenarnya. Anak terbiasa diperhatikan, jadi membuat anak di rumah semakin rewel saat bosan. Padahal saya tidak bisa selalu menemani, perlu toilet time, menyiapkan makanan, beres-beres, dll. Disisi lain, saya sangat terbantu secara emosional saat bepergian karena anak tenang.

Sejauh ini, saya bisa tenang menghadapi anak tantrum itu saat di London. Si Kakak jetlag, lapar karena tidak mau makan seharian, lelah, jadi tantrum sampai guling-guling di trotoar dan akhirnya menenangkan diri dengan duduk di trotoar seperti foto di atas. Saya hanya mendiamkan sambil menjaga keamanannya.

Mungkin ada sih orang yang melirik, tapi mereka pura-pura tidak tahu. Malah mereka menyingkir, seakan memberi ruang bagi kami di tengah trotoar. Saya tidak merasa menerima tatapan orang yang terganggu juga, jadi saya bisa fokus berusaha menjaga eye contact dengan anak.

Kapan ya, saya bisa setenang saat itu kala menghadapi anak tantrum di tanah air sendiri?

Musim Dingin

image

Dulu waktu kecil, saya kira winter itu pasti bersalju dan hanya terjadi di negara-negara berbahasa Inggris. Lebih salah kaprah lagi, saya kira semua negara di Benua Eropa dan Amerika berbahasa Inggris dan mengalami empat musim 😁  Walaupun di sekolah saya suka pelajaran peta buta dan geografi, tetap saja saya tidak menyadari kesalahan asumsi saya.

Membutuhkan banyak perjalanan dan interaksi dengan orang hingga saya paham bahwa empat musim terjadi di tempat yang terletak di bagian utara atau selatan bumi, bukan tergantung negara atau benuanya.  Waktu ke Vietnam, saya baru sadar kalau Ho Chi Minh City mengalami dua musim, sedangkan Hanoi mengalami empat musim, padahal kedua kota tersebut ada dalam satu negara.

Waktu kuliah, pertama kalinya keluar negeri, saya pergi ke Jepang di musim panas. Setibanya disana, saya kaget karena suhunya sampai 41’C. Saya pikir kalau negara empat musim ya musim panasnya sejuk. Jadi saat itu saya bahagia sekali ketika akhirnya sampai di  Singapura sebelum pulang, sejuk! *Iya, 32’C itu sejuk ;)* Untungnya air keran bisa diminum, kalo tidak, bisa-bisa saya mati kehausan karena uang saku tidak cukup untuk jajan.

Dengan asumsi tanpa dasar pula, saya santai saat pertama kali pergi di musim dingin ke Beijing. Saya pikir tidak ada salju di Benua Asia. Saya tidak membawa winter coat, apalagi thermal wear. Sepatu juga cuma sepatu keds biasa. Sampai sana saya jatuh sakit karena suhu -5’C. Padahal salju sudah tinggal sisa saja, tapi tetap saja dingin.  Sesampainya di rumah, saya cuma bisa tergolek di tempat tidur hingga hampir seminggu.

Di perjalanan lain, lagi – lagi saya menyepelekan winter.  Saya santai saja saat tiba di Dubai. Saya pikir, paling sedingin Madinah saat musim haji lah. Hingga tiba waktunya saya keluar dari hotel hanya dengan selapis pakaian. Baru melangkahkan kaki di halamannya saja saya langsung memutuskan kembali ke kamar untuk mengambil jaket.  Suhunya memang hanya 12’C, tapi angin dinginnya menusuk kulit.  Nggak sanggup deh saya meneruskan berjalan kaki 500m ke stasiun kereta terdekat.

Setelah sekian kali salah paham dan salah kostum, saya tentu lebih mempersiapkan pakaian saat pergi.  Walau di Beijing sempat dapat sisa salju, tapi ternyata saya tetap norak saat pertama kali merasakan hujan salju. Saat jalanan sepi karena orang lebih memilih di rumah, saya malah sengaja menyusuri jalanan Istanbul demi merasakan hujan salju. Tanpa payung! 😉

Alhamdulillah saya tidak pernah terjebak badai salju, hanya penundaan penerbangan selama beberapa jam saja. Saya baru tahu kalau pesawat harus di-coating bahan kimia tertentu sesaat sebelum lepas landas, jadi antrian pesawat di runway lebih lama dari biasanya.

Semua salah kaprah dan salah kostum itu terjadi karena saya tidak melakukan riset sebelum pergi.  Setelah banyak kesalahan itu, barulah saya mencari tahu tentang cuaca dan kebiasaan di tempat tujuan, terutama setelah punya bayi. Bahkan cenderung berlebihan menghadapi musim dingin. Terbukti dengan jarangnya bayi saya dipakaikan coat saat di Tunis. Tapi lebih baik berjaga-jaga. Gawat kan kalo sampai bayi saya sakit!

Tunisia (Ternyata) Menyenangkan

Pertama kali saya tau akan pergi ke Tunisia, saya membayangkan negara-negara Mesir atau  Middle East seperti Arab Saudi atau Uni Emirat Arab : tandus, gurun, kalaupun ada hijau-hijau pohon, pasti artifisial.  Membayangkan disana akan kedinginan karena mulai masuk winter, dan mati gaya karena weekdays tidak bisa kemana-mana.  Saya juga membayangkan Tunisia seperti negara Afrika lain yang terbelakang. Continue reading